| Wednesday, July 29, 2009 |
| Ajarkan aku membencimu |
aku sadar, mencintai perempuan ini adalah sesuatu yang keliru. walau aku juga tahu bahwa cinta datang tanpa diduga dan dimau. namun rasa cinta ku kali ini adalah benar-benar terlarang dan salah tempat. bagaimana tidak? perempuan itu telah memiliki keluarga. seorang suami dan putri kecil yang lucu nan manis. kenyataannya, perasaan ini pun tiada mampu ku bendung. terus saja muncul dan ada, SIAL.
dan celakanya, perempuan ini membalas semua perasaanku. entah sudah berapa kali kami bertemu.
aku ingin membencinya, tapi entah kenapa tiada bisa.. aku ingin melupakannya, namun tiada mampu..
aku tersiksa setiap membayangkan dirinya berada dipelukan ayah dari anaknya. aku terluka saat dia hanya mampu menyisakan sedikit waktu untukku..
dan aku kecewa..saat dia tak bisa berbuat apa apa dengan keadaan ini.
seperti sore ini, aku harus merasakan kecewa lagi. saat dia tak bisa menemaniku datang ke acara besok. bodoh! aku lupa kalau besok adalah hari minggu. hari dimana dia tidak bisa diganggu gugat. hari dimana dia menghabiskan waktu bersama putri kecil dan ayah dari anaknya.
dan lagi aku hanya duduk terdiam dan berpikir..
apa yang aku lakoni sekarang ”
mengharapkan dia melepaskan keluarganya? sepertinya itu tidaklah mungkin. tolong berikan satu cara agar aku bisa membencimu..!! |
posted by AmaH @ 7:03:00 PM  |
|
|
|
| Tuesday, June 16, 2009 |
| Sesuka kamu saja |
"aku akan datang. tunggu saja. sabar toh"
selalu itu yang kamu bilang..tapi seminggu, dua minggu..tak ada sosokmu..bahkan sekedar say hallo lewat tulisan di ponsel pun kau enggan..
dan aku hanya bisa menjawab " entahlah, kesabaranku telah terbang bersama janji yang sering kali meleset" "lalu aku musti bersabar yang seperti apa?" tanyaku..
dan kau, selalu saja diam. mungkin memikirkan jawaban yang tepat untukku. agar hatiku tidak semakin kecewa dan terluka.
"tunggu saja. aku akan datang" lalu pembicaraan kita pun berakhir.
selalu seperti itu. memulai dan memutuskan pembicaraan sesukamu sendiri.
tapi kenapa setiap ada permintaan "akhiri saja" kau selalu tak peduli..
dan aku hanya bisa ngomel sendiri..fyuuh.... |
posted by AmaH @ 7:16:00 PM  |
|
|
|
| Wednesday, February 25, 2009 |
| dunia tanpa suara |
dunia tanpa suara. kadang saya begitu menginginkan hal tersebut. tidak ada musik, tidak ada celotehan tak berarti. karena sejatinya saya membenci suara-suara sumbang yang tidak diperlukan. berapa banyak dalam sehari, saya harus mendengarkan pembicaraan orang yang tidak penting dan hanya pemanis bibir. karena itulah, kadang saya begitu menikmati kediaman. ada dimana satu atau dua hari dalam seminggu, saya mendiamkan orang-orang yang ada disekeliling saya. saya menjadi tak peduli apa yang dikerjakan, dipikirkan mereka. bagi saya, mereka tidak eksis untuk beberapa waktu.
bayangan dunia tanpa suara memenuhi rongga sel kelabu saya sore kali ini, sekarang ini dan waktu ini. namun, dunia terasa membosankan, kehidupan menjadi statis, dan bahkan tanpa bunyi atau suara, saya merasa terancam. tidak ada alarm waktu bangun tidur, makan, bercinta dan bahkan sekedar mendeteksi adanya bahaya juga rasa aman. suara...adalah salah satu elemen pelengkap hidup. |
posted by AmaH @ 7:05:00 PM  |
|
|
|
| Thursday, January 15, 2009 |
| Mimpi Buruk |
tiba-tiba dia datang, seperti angin. menampar kesadaranku atas ketiadaannya selama beberapa bulan ini. dengan tas menyatu di punggung dia berkata : "harusnya aku mendapatkan sambutan yang lebih hangat dari sekedar salam" dan harusnya aku juga mendapatkan penginapan yang lebih dari losmen ini” sambungnya sinis mengomentari semua yang sudah aku siapkan secara mendadak. ”Ini akhir bulan sayang, kau tahu persis keadaanku!!” Akh..kapan sih kau tidak pernah bokek “ Keluhnya persis didepan kamar hotel. Tanpa sepatah kata aku langsung memutar kunci kamar. Sesaat ku lihat dia memandang nanar dan menelusuri satu persatu keadaan kamar yang akan ditempati dalam 2 hari ke depan. “lumayan untuk pengusir lelah” ucapnya sambil meletakkan tas diatas meja. setelah puas memeriksa, dia menuju kamar mandi. Entah apa yang dia lakukan disana, lima belas menit kemudian dia keluar dengan handuk terlilit dikepala. ”Setelah ini biarkan aku menemui seseorang”...jelasnya Dan aku hanya mengangkat bahu sebagai tanda terserah. Satu jam berlalu dengan keheningan. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, dia sibuk menulis sesuatu di laptop. Diam-diam aku perhatikan dirinya. tujuh bulan tanpa kabar dia sudah banyak berubah. Sikapnya tak lagi manis, tak ada senyum diwajahnya, setiap kata yang dia ucapkan terasa getas di kuping. Menusuk harga diriku sebagai lelaki. Tiba-tiba saja dia memalingkan muka ke arahku. Seperti mengetahui aku sedang memperhatikannya, dia pun mendongak ke arahku. ”ada yang aneh dengan wajahku?” Sejenak aku memandangnya sebelum memalingkan muka. Sejak aku jemput di stasiun tugu tadi pagi, sikapnya memang mengesalkan. Biasanya setiap bertemu aku akan menyambutnya dengan pelukan dan ciuman sayang di pipi, namun tadi pagi saat aku hendak memeluk dan menciumnya dia menghindar. Juga waktu aku gandeng tangannya, dia menepis tanganku. Aku tahu dia kesal dan marah karena sikapku yang akhir-akhir ini tak peduli padanya. ”tujuanku ke yogya karena ada urusan yang harus aku kerjakan. Sedang bertemu dengan kamu adalah bonus lain yang bisa aku dapatkan” demikian kalimatnya menjelaskan sewaktu kami berdua berkomunikasi lewat sms 3 hari lalu . Ini adalah pertemuan kedua setelah pertemuan kami di awal februari. ”jadi masih tidak mau cerita tujuan kamu kesini sebenarnya” tanyaku memecah keheningan. ”buat apa? Toh selama tujuh bulan ini kamu juga tidak peduli dengan perasaanku. Jadi jangan urusi masalahku” jawabnya ketus Sisa kemarahan masih terlihat di wajah manisnya. Lalu dia pun kembali sibuk dengan dunianya sendiri. Asyik mengobrol dengan teman-temannya didunia maya. Hotel ini memang menyediakan hot spot, jadi di dalam kamar pun kami bisa mengakses internet. ”jam berapa dan dimana kamu bertemu dengan teman kamu” ”bukan urusan kamu” jawabnya singkat Bosan dengan perlakuannya, lantas aku pun mulai menyalakan tv. Tidak ada acara yang menarik. Semua chanel menayangkan sinetron khas remaja dengan tema cinta yang dangkal. Cinta? Jujur saja, aku masih sangat menyanyangi gadis didepanku ini. Walaupun dengan sikap yang menjengkelkan seperti sekarang, namun aku bersyukur dia masih disampingku. Begitu sering aku mengecewakan, menyakiti hati dan membuat dia menangis, namun dia masih saja setia. Walaupun aku tahu tidak sedikit kumbang yang berusaha mendekatinya, tetapi sampai sekarang dia masih memilih untuk mendampingiku. Dulu setiap aku menghilang, dia akan mencariku. Menelfon ke semua teman dan relasiku yang dia kenal hanya untuk mengetahui keberadaanku. Perhatian dan sayangnya begitu tulus dan begitu nyata aku rasakan walaupun kami berjauhan. Aku di yogyakarta, sedang dia di jakarta. namun hal itu tidak menghalangi kisah asmara kami. Tidak ada waktu yang wajib bagi kami untuk bertemu melepas rasa kangen dan rindu yang datang menggoda. Bisa satu atau dua bulan sekali kami saling berkunjung. Walaupun dia yang lebih sering datang ke yogya menemui aku. dan kali ini, dia datang tapi bukan untuk menemuiku. Juni kemarin tepat di hari ulang tahunnya aku mengecewakanya lagi. Aku tak bisa datang, padahal aku sendiri yang berjanji akan ke jakarta untuk merayakan hari bahagianya berdua. Dia marah besar dan kecewa. Hanya kalimat pendek yang dia kirimkan lewat sms ”aku lelah dengan semua ketidakpedulianmu. Jangan salahkan bila hatiku tak lagi untukmu” Sejak itu sikapnya berubah. Tak ada sms, telfon, email bahkan obrolan di dunia maya. Dia tiba-tiba menjauh. Dia menghilang. Sampai tiga hari kemarin datang sms yang mengabarkan dia akan datang dan meminta aku membooking kamar hotel. Jam di dinding menunjukkan pukul 4 sore. Bosan dengan acara tv, aku pun lantas beranjak dan mengambil jaket seraya berkata ”aku mau keluar. Kamu titip apa?” hening sesaat. ”nggak ada” jawabnya tanpa memandang dan aku pun berlalu. Perasaanku masih kacau saat keluar dari hotel. Aku menuju ke warung kecil pinggir jalan. ”dji sam soe satu bungkus” kataku kepada pemilik warung. Setelah menyerahkan uang lalu aku pun duduk di bangku kecil yang ada di warung tersebut. Aku mulai menyalakan rokok dan ku hisap dalam-dalam. Berpikir! Namun,Tiba-tiba hp ku bergetar. Ada pesan masuk dan rupanya dari dia. Sender: Ame Aku di box 4 warnet dekat hotel. Kamu bisa kesini sekarang. Penting! aku membuang puntung rokok yang tersisa. Dia paling tidak tahan dengan bau rokok. Dia tahu betul bahwa aku tidak bisa tidak merokok dalam sehari, namun dia masih mentolerir. Katanya ”kamu boleh merokok asalkan saat tidak bersama aku” Segera aku menuju warnet yang jaraknya tidak jauh dari warung tempatku duduk. ”Siapa tahu saja setelah ini sikapnya akan berubah Kembali menjadi ame yang manis, lembut dan perhatian”pikirku Sesampai di warnet aku langsung menuju box 4. Belum sempat aku menanyakan ada apa, tiba-tiba dia berkata ”ambilkan laptop yang tertinggal di kamar. Ada data yang yang tertinggal dan harus segera aku kirim” Geram. Itu yang aku rasakan. Sejak pagi aku sudah bersabar menghadapi sikapnya yang menjengkelkan dan sekarang dia memperlakukan aku seperti kacung. Tanpa sepatah kata, aku lantas menuju hotel. Sesampainya dikamar, aku lihat laptop ame masih menyala dan emailnya masih belum sign out. Penasaran aku mengeceknya dan aku temukan satu folder bernama rahasia. Kubuka dan ternyata semuanya berisi kiriman email dari satu orang. Salah satu emailnya berjudul our picture, lalu aku mengkliknya dan setelah menunggu loading akhirnya seluruh email itu bisa terbuka dan ku lihat ame dengan seorang cowok berpelukan mesra,mereka tersenyum dan tertawa bahagia.
-Agustus 2007 - |
posted by AmaH @ 2:08:00 PM  |
|
|
|
| Saturday, August 23, 2008 |
| Teras Sawah |
Bagi sebagian warga Dusun Tanggeran yang hidupnya dari bertani, musim panen adalah masa-masa yang menggembirakan. Dimana mereka mendapatkan hasil atas jerih payah yang telah mereka lakukan selama 3 bulan. Dari mulai membajak, menanam padi, menyiangi gulma, mengaliri persawahan agar tidak kurang air dan jika padi telah menguning pun petani masih saja disibukkan dengan kegiatan mengusir burung. Senja di dusun ini sangat indah, hamparan kuningnya padi bagai lautan emas, semilir hembusan angin, gemericik air, kicau burung membuat aku lupa akan kepenatan setelah menghadapi ujian akhir semester. Di gubug kecil inilah biasanya aku menikmati senja, berhenti sejenak dari rutinitas, sekedar melepas lelah, merefresh cerebelium otak, pada setiap sore, selama kepulanganku dari kota pelajar. Uniknya lagi sawah di desaku ini mempunyai nama. Nama yang disesuaikan dengan letak dan peristiwa yang menyertainya. ada sawah kidul karena terletak di sebelah selatan dusun, sawah wetan, sawah lor dan sawah kulon. Ada juga sawah kaget karena salah satu penduduk desa dulu meninggal terkena sambaran petir, sawah jamban karena ada sungai kecil yang oleh penduduknya dijadikan tempat buang hajat.
Diantara anak-anak sebayaku di dusun ini, Aku mungkin salah satu anak yang beruntung bisa meneruskan pendidikan ke jenjang kuliah. Karena selepas smu biasanya anak2 dusun ini langsung ke kota jakarta untuk membantu perekonomian orangtuanya masing-masing. Namun Bapak dan ibu bersikeras menyuruh aku meneruskan sekolah. ”biar jadi orang” demikian kata mereka.
aku mengerti betul kesulitan yang dihadapi bapak dan ibu. Dengan sawah seluas 300 m3 bagaimana mungkin beliau mencukupi kebutuhan sehari-hariku. Terlebih harus membayar uang kost perbulannya. Maklum saja, dusun ini berada di wilayah jawa tengah dan untuk mencapai kota yogya dibutuhkan 7 jam perjalanan. Oleh karena itu, disela-sela waktu belajar aku kerja part time jadi CS pada salah satu perusahaan internet dan terkadang mengirimkan tulisan ke berbagai surat kabar. Dari gaji kerja sambilan dan tulisan itulah aku mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan uang kost perbulannya. ”sudah sore nduk. Ayo pulang” Teriakan bapak membuat aku tersadar dari lamunan panjangku. Akh! Rupanya senja enggan berada di peraduannya dan malam pun telah siap menggantikan kedudukannya. Dan aku pun beranjak meninggalkan gubuk, hamparan padi, gemericik air dan semilirnya angin. ”jadi semua berapa bayarnya?” tanya bapak saat aku, ibu dan adikku berkumpul di ruang keluarga setelah sholat isya. ”900 ribu pak. Itu sudah spp dan per sks” Bapak Cuma diam membisu. ”tapi bisa di cicil kok pak. 2x” Aku lihat bapak mengeriyitkan dahi, seperti sedang berpikir keras, dengan lirih beliau berkata ”panen kemarin hasilnya buat makan. Itu saja dapat sedikit, soalnya habis dimakan tikus. Lik harjo saja panen kali ini gagal total. Sawahnya diserang tikus.doakan saja sawah wetan selamat. Nanti uangnya buat bayar kuliah kamu”
Aku terdiam. Memang, akhir-akhir ini banyak warga dusun balapusuh mengeluh tentang gagal panen akibat tikus. Padahal dulu sangat jarang terdengar tikus menyerang persawahan dan memakan habis padi. Tapi bisa jadi semua itu akibat dari keserakahan warga. Lihat saja, hutan yang mengitari dusun menjadi gundul. Hutan yang dahulu terlihat sangar dan angker saking lebat dan banyaknya pohon kini menjadi gundukan tanah berwarna coklat. Tak ada satu pun pohon yang berdiri disana. Tidak ada pepohonan yang tersisa. Ular, celeng dan semua penghuni hutan diburu dan dibunuh. Aku rasa, warga dusun telah menjadi tidak peduli dan semena-mena terhadap alam. Keseimbangan alam dan binatang menjadi terganggu. ”lagipula, orang-orang yang biasa menuai padi sekarang susah diatur”sambung bapak meneruskan perkataannya. ”memangnya kenapa, pak” ”banyak dari mereka yang ”nerasi sawah” ”Nerasi sawah?” ”iya, belum ada deal sama tukang tebasnya tahu2 sawah sudah di panen bagian pinggirnya, sebagai pertanda itu wilayah dia” ”kok bisa” ”nggak tahu. Padahal itu merugikan pemilik sawah. Soalnya harga tebasan akan turun. Tapi kadang mereka disuruh sama tukang tebas untuk nerasi sawah.” ”curang kalau gitu pak. Kenapa nggak lapor lurah” ”sudah. Tapi nggak ada tindakan apa apa. Lurahe leda-lede. ”kasihan si wagiman. Dia rugi besar. Belum ada deal tiba-tiba saja sawahnya sudah diterasi. Akhirnya dia terpaksa setuju dengan harga yang ditawarkan tukang tebas” Tiap musim panen, sudah dapat dipastikan akan banyak tukang tebas yang tiba-tiba jadi sering mampir ke rumah pemilik sawah. Sekedar memastikan hasil panennya sudah ada yang menawar atau tawar menawar harga. Tapi biasanya pemilik sawah sudah mematok harga, tinggal tukang tebasnya setuju atau tidak dengan harga yang diajukan. Ada juga tukang tebas yang curang menyuruh orang-orangnya menerasi sawah yang mau dipanen. Hal ini bertujuan agar harga yang ditawarkan bisa turun sehingga dia untung gede. Dua minggu sejak obrolanku dengan bapak, rumah mulai ramai. Tukang tebas mulai sibuk melancarkan aksi rayuannya agar bapak menjual hasil panen dengan harga murah. Pagi, siang, sore dan malam mereka tiada hentinya datang bertamu. Bapak belum memberikan penawaran harga. Waktu aku tanya sebabnya, bapak menjawab ”satu minggu lagi baru dipanen”. Sama seperti sore sebelumnya, saat ini pun bapak sedang menerima tamu. Namanya Pak Hudi, salah satu tukang tebas dari dusun tetangga. Perawakannya sedang, berumur sekitar 50 tahun, wajah oval, berkumis tipis dan berpeci. Sudah dua minggu ini pak hudi gencar melakukan penawaran. Saat mengobrol suaranya sampai ke dapur, jadi aku tahu isi pebincangan mereka. Rupanya bapak sudah menentukan harga jual padinya. Dan pak hudi menawar 500 ribu lebih rendah dari harga penawaran. ”2 juta pak hudi. Kalau bapak tidak mau tidak apa-apa”
Tak lama kemudian, pak hudi berpamitan. Wajahnya tak menunjukan reaksi apapun. Aku langsung menemui bapak dan menanyakan apa yang terjadi. Bapak menjelaskan semuanya. Bapak bilang, pak hudi menawar satu juta lima ratus ribu. Dan bapak belum memberikan kata setuju sambil menunggu tawaran yang lain. Besoknya terjadi kegemparan. Dari halaman, aku melihat uwak barso tergopoh-gopoh masuk rumah, mengetuk pintu sambil memanggil nama bapak lantas tanpa dipersilahkan duduk dikursi teras, wajahnya menunjukan ketidaksabaran. Tak lama bapak pun muncul. Mereka berbicara serius. Dan beberapa menit kemudian aku lihat wajah bapak berubah cemas dan pasrah. Sesuatu yang buruk tengah terjadi” pikirku. Tanpa menunggu lama aku pun masuk rumah dan ku lihat ibu duduk pasrah di kursi ruang makan. Seperti mengetahui pikiranku, ibu lantas berkata ”sawahnya sudah diterasi tadi subuh oleh orang2 suruhan pak hudi” Dan pagi pun mendadak mendung di dalam rumah.
- October 2007 - |
posted by AmaH @ 10:50:00 AM  |
|
|
|
|
| |
| About Me |
|
Name: Amma
Home: DjoGdJa
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
|
| Powered by |
 |
|