| Friday, December 08, 2006 |
| Cerita di Balik Hotel Mercure |
dipojok hotel mercure siang itu sewaktu coffe break pertama, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengeluarkan semua unek-unek dan kejengkelan yang dua minggu terakhir ini menyelusup di hati. ketidaksukaan yang aku redam dengan alasan persahabatan. tapi atas nama persahabatan dan kasih sayang yang sudah tercipta diantara kami berdua itulah saya memaksakan diri untuk bicara dari hati ke hati. entah ada apa dengan sahabat saya ini. dia menjadi sosok yang lain dimata saya. dua tahun saya dekat dengannya menjadikan saya paham, seperti apa dia sebenarnya. tapi, dua bulan ini dia menjadi orang asing, bersikap misterius dan puncaknya menjadi berani. syukur kalau berani dalam kebaikan, sudah pasti akan saya dukung seratus persen. lha ini.. "saya sebal dengan tingkah laku kamu akhir-akhir ini" cerocos saya memulai pembicaraan. tapi bukan karena saya iri karena kamu dekat dengan cowok itu" lanjut saya. "sebalnya kenapa" "kamu jadian sama Andre?" "ndak "bohong" ucap saya dalam hati. orang awam pun akan tahu kamu sedang jatuh cinta. mata yang berbinar, sedikit-sedikit melakukan kontak telpon bahkan waktu di toilet. itu yang namanya ndak jadian? "kalau ndak kenapa kamu sekarang sering tidur di kos dia? bahkan semalam pun sesudah kita meeting kamu lebih suka pulang ke kos dia daripada kos sendiri. saya tahu, pintu pagar kos kamu akan terkunci tepat jam 9 malam. dan saya pun sudah menawarkan diri agar kamu menginap di rumah tapi keburu ditolak" "entahlah" jawabnya "lalu, gimana kabar Dion" "baik" "saya memang tidak berhak ikut campur urusan kamu, tapi tolong jangan khianati Dion. saya tidak akan cerewet andai kamu sudah tidak ada hubungan dengannya. kamu harus memilih antara Dion dan Andre" "saya bingung. Andre tahu saya punya Dion. tapi dia memaksa saya jalan dengannya" "kamu harus tegas!!" sahabat saya ini dari dulu memang plin-plan. jangankan dalam hal memutuskan. untuk hal sepele, semisal mencari tempat makanpun dia sering kali berubah-ubah. sebentar ingin makan bakso, dua menit kemudian jadi lele penyet, dan bisa lagi berubah menjadi steak. dan sudah sering pula saya menjadi marah atas sikapnya itu. "aku nggak mau kamu menyakiti orang" dikhianati? ya, saya pernah mengalaminya. dan saya tahu persis bagaimana rasanya. terlebih dikhianati oleh orang yang kita sayang. hampir lewat dua tahun. tapi sakit itu tak juga hilang dari sudut hati dan sel-sel kelabu otakku. selama 3 hari sejak perselingkuhan dia terbongkar, saya tidak bisa melakukan apa-apa. otak saya blank bahkan hanya untuk makan pun, saya harus dipaksa. tahun 2004, tahun dimana aku lewati dengan susah payah. kembali menata hati untuk menerima Dia. membangun kepercayaan yang porak poranda akibat pengkhianatan yang dia lakukan. membangun pondasi diatas luka yang dia torehkan. itulah sebabnya saya sangat membenci orang yang berani menyakiti hati orang lain. seperti tahu apa yang akan saya katakan, sahabat saya ini hanya manggut-manggut. "saya akan membicarakan dengan andre lagi, mba" "dibicarakan mulu dari dulu" sungutku terlihat sahabat saya hanya menunduk. "sudahlah" ucap saya sambil memeluk pundaknya. "kamu sudah gede, tahu mana yang benar dan salah. maaf kalau saya mencampuri urusan pribadi kamu. saya cuma ingin kamu tidak melakukan kesalahan yang akan kamu sesali, saya juga tidak mau kamu tersakiti. kalo kamu sakit, aku juga merasakan sakit. karena bagiku, kamu lebih dari sahabat. dan saat kamu salah langkah, aku wajib mengingatkannya. tidak peduli kamu suka atau enggak. lagian, kalau kamu kenapa-kenapa, bagaimana saya harus bertanggung jawab ke keluargamu." "iya mba, saya mengerti. terimakasih atas semuanya. tapi janji, kali ini saya akan membicrakannya lagi dengan andre" "yup. btw anyway ajay bajay. itu makanan mo sampe kapan kita diemin. yummy gitu. lagian perut dan keroncongan nih.eh, tadi pagi kamu dikasih sarapan nggak sama andre??" "igh..mba aya ini. pastinya dikasih lah" "syukurlah, berarti dia nggak pelit" "terus-terus, kalian ngapain aja semalaman. beneran nih tidur? mbok cerita gitu loh" ledek saya "yeee..wanna know ajah deh akh" langit terlihat cerah dari pojokan hotel mercure ini. secerah hati saya yang sudah melampiaskan ganjalan. semoga saja sahabat saya tidak melakukan kesalahan dan berani memilih satu diantara dua cowok itu. saat pandangan saya beralih terlihat sahabat saya sedang berjalan menuju tempat coffe break. "keeey..tunggu" kejar saya..Labels: cerpen |
posted by Asma @ 4:42:00 PM  |
|
| 1 Comments: |
-
I should say that you were taking a bold steps to confront a personal matter, however may your strong note can make a change..
Hope that your friend can stay true [to herself]
It's been a while I have yet visiting your blog - kind regards from West Africa. :-)
|
| |
| << Home |
| |
|
|
|
| |
| About Me |
|
Name: Amma
Home: DjoGdJa
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
|
| Powered by |
 |
|
I should say that you were taking a bold steps to confront a personal matter, however may your strong note can make a change..
Hope that your friend can stay true [to herself]
It's been a while I have yet visiting your blog - kind regards from West Africa. :-)