| Saturday, August 23, 2008 |
| Teras Sawah |
Bagi sebagian warga Dusun Tanggeran yang hidupnya dari bertani, musim panen adalah masa-masa yang menggembirakan. Dimana mereka mendapatkan hasil atas jerih payah yang telah mereka lakukan selama 3 bulan. Dari mulai membajak, menanam padi, menyiangi gulma, mengaliri persawahan agar tidak kurang air dan jika padi telah menguning pun petani masih saja disibukkan dengan kegiatan mengusir burung. Senja di dusun ini sangat indah, hamparan kuningnya padi bagai lautan emas, semilir hembusan angin, gemericik air, kicau burung membuat aku lupa akan kepenatan setelah menghadapi ujian akhir semester. Di gubug kecil inilah biasanya aku menikmati senja, berhenti sejenak dari rutinitas, sekedar melepas lelah, merefresh cerebelium otak, pada setiap sore, selama kepulanganku dari kota pelajar. Uniknya lagi sawah di desaku ini mempunyai nama. Nama yang disesuaikan dengan letak dan peristiwa yang menyertainya. ada sawah kidul karena terletak di sebelah selatan dusun, sawah wetan, sawah lor dan sawah kulon. Ada juga sawah kaget karena salah satu penduduk desa dulu meninggal terkena sambaran petir, sawah jamban karena ada sungai kecil yang oleh penduduknya dijadikan tempat buang hajat.
Diantara anak-anak sebayaku di dusun ini, Aku mungkin salah satu anak yang beruntung bisa meneruskan pendidikan ke jenjang kuliah. Karena selepas smu biasanya anak2 dusun ini langsung ke kota jakarta untuk membantu perekonomian orangtuanya masing-masing. Namun Bapak dan ibu bersikeras menyuruh aku meneruskan sekolah. ”biar jadi orang” demikian kata mereka.
aku mengerti betul kesulitan yang dihadapi bapak dan ibu. Dengan sawah seluas 300 m3 bagaimana mungkin beliau mencukupi kebutuhan sehari-hariku. Terlebih harus membayar uang kost perbulannya. Maklum saja, dusun ini berada di wilayah jawa tengah dan untuk mencapai kota yogya dibutuhkan 7 jam perjalanan. Oleh karena itu, disela-sela waktu belajar aku kerja part time jadi CS pada salah satu perusahaan internet dan terkadang mengirimkan tulisan ke berbagai surat kabar. Dari gaji kerja sambilan dan tulisan itulah aku mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan uang kost perbulannya. ”sudah sore nduk. Ayo pulang” Teriakan bapak membuat aku tersadar dari lamunan panjangku. Akh! Rupanya senja enggan berada di peraduannya dan malam pun telah siap menggantikan kedudukannya. Dan aku pun beranjak meninggalkan gubuk, hamparan padi, gemericik air dan semilirnya angin. ”jadi semua berapa bayarnya?” tanya bapak saat aku, ibu dan adikku berkumpul di ruang keluarga setelah sholat isya. ”900 ribu pak. Itu sudah spp dan per sks” Bapak Cuma diam membisu. ”tapi bisa di cicil kok pak. 2x” Aku lihat bapak mengeriyitkan dahi, seperti sedang berpikir keras, dengan lirih beliau berkata ”panen kemarin hasilnya buat makan. Itu saja dapat sedikit, soalnya habis dimakan tikus. Lik harjo saja panen kali ini gagal total. Sawahnya diserang tikus.doakan saja sawah wetan selamat. Nanti uangnya buat bayar kuliah kamu”
Aku terdiam. Memang, akhir-akhir ini banyak warga dusun balapusuh mengeluh tentang gagal panen akibat tikus. Padahal dulu sangat jarang terdengar tikus menyerang persawahan dan memakan habis padi. Tapi bisa jadi semua itu akibat dari keserakahan warga. Lihat saja, hutan yang mengitari dusun menjadi gundul. Hutan yang dahulu terlihat sangar dan angker saking lebat dan banyaknya pohon kini menjadi gundukan tanah berwarna coklat. Tak ada satu pun pohon yang berdiri disana. Tidak ada pepohonan yang tersisa. Ular, celeng dan semua penghuni hutan diburu dan dibunuh. Aku rasa, warga dusun telah menjadi tidak peduli dan semena-mena terhadap alam. Keseimbangan alam dan binatang menjadi terganggu. ”lagipula, orang-orang yang biasa menuai padi sekarang susah diatur”sambung bapak meneruskan perkataannya. ”memangnya kenapa, pak” ”banyak dari mereka yang ”nerasi sawah” ”Nerasi sawah?” ”iya, belum ada deal sama tukang tebasnya tahu2 sawah sudah di panen bagian pinggirnya, sebagai pertanda itu wilayah dia” ”kok bisa” ”nggak tahu. Padahal itu merugikan pemilik sawah. Soalnya harga tebasan akan turun. Tapi kadang mereka disuruh sama tukang tebas untuk nerasi sawah.” ”curang kalau gitu pak. Kenapa nggak lapor lurah” ”sudah. Tapi nggak ada tindakan apa apa. Lurahe leda-lede. ”kasihan si wagiman. Dia rugi besar. Belum ada deal tiba-tiba saja sawahnya sudah diterasi. Akhirnya dia terpaksa setuju dengan harga yang ditawarkan tukang tebas” Tiap musim panen, sudah dapat dipastikan akan banyak tukang tebas yang tiba-tiba jadi sering mampir ke rumah pemilik sawah. Sekedar memastikan hasil panennya sudah ada yang menawar atau tawar menawar harga. Tapi biasanya pemilik sawah sudah mematok harga, tinggal tukang tebasnya setuju atau tidak dengan harga yang diajukan. Ada juga tukang tebas yang curang menyuruh orang-orangnya menerasi sawah yang mau dipanen. Hal ini bertujuan agar harga yang ditawarkan bisa turun sehingga dia untung gede. Dua minggu sejak obrolanku dengan bapak, rumah mulai ramai. Tukang tebas mulai sibuk melancarkan aksi rayuannya agar bapak menjual hasil panen dengan harga murah. Pagi, siang, sore dan malam mereka tiada hentinya datang bertamu. Bapak belum memberikan penawaran harga. Waktu aku tanya sebabnya, bapak menjawab ”satu minggu lagi baru dipanen”. Sama seperti sore sebelumnya, saat ini pun bapak sedang menerima tamu. Namanya Pak Hudi, salah satu tukang tebas dari dusun tetangga. Perawakannya sedang, berumur sekitar 50 tahun, wajah oval, berkumis tipis dan berpeci. Sudah dua minggu ini pak hudi gencar melakukan penawaran. Saat mengobrol suaranya sampai ke dapur, jadi aku tahu isi pebincangan mereka. Rupanya bapak sudah menentukan harga jual padinya. Dan pak hudi menawar 500 ribu lebih rendah dari harga penawaran. ”2 juta pak hudi. Kalau bapak tidak mau tidak apa-apa”
Tak lama kemudian, pak hudi berpamitan. Wajahnya tak menunjukan reaksi apapun. Aku langsung menemui bapak dan menanyakan apa yang terjadi. Bapak menjelaskan semuanya. Bapak bilang, pak hudi menawar satu juta lima ratus ribu. Dan bapak belum memberikan kata setuju sambil menunggu tawaran yang lain. Besoknya terjadi kegemparan. Dari halaman, aku melihat uwak barso tergopoh-gopoh masuk rumah, mengetuk pintu sambil memanggil nama bapak lantas tanpa dipersilahkan duduk dikursi teras, wajahnya menunjukan ketidaksabaran. Tak lama bapak pun muncul. Mereka berbicara serius. Dan beberapa menit kemudian aku lihat wajah bapak berubah cemas dan pasrah. Sesuatu yang buruk tengah terjadi” pikirku. Tanpa menunggu lama aku pun masuk rumah dan ku lihat ibu duduk pasrah di kursi ruang makan. Seperti mengetahui pikiranku, ibu lantas berkata ”sawahnya sudah diterasi tadi subuh oleh orang2 suruhan pak hudi” Dan pagi pun mendadak mendung di dalam rumah.
- October 2007 - |
posted by Asma @ 10:50:00 AM  |
|
|
|
|
| |
| About Me |
|
Name: Amma
Home: DjoGdJa
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
|
| Powered by |
 |
|